Dalam sebuah diskusi yang penuh refleksi dan sarat makna, dua tokoh dari dunia yang berbeda—Sujiwo Tejo, seorang budayawan nyentrik yang kerap menyampaikan kegelisahannya lewat seni dan satire, serta Akbar Faizal, seorang politisi yang tajam dalam menganalisis persoalan kebangsaan—bertukar gagasan tentang kondisi Indonesia hari ini.
Sujiwo Tejo, dengan gaya khasnya yang filosofis, menekankan pentingnya kembali ke akar budaya dan memahami identitas bangsa secara lebih mendalam. Ia mengkritisi demokrasi yang kian kehilangan ruhnya, terjebak dalam praktik transaksional, serta sistem ekonomi yang sering kali tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam pandangannya, politik seharusnya tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga seni dalam merawat harmoni sosial.
Di sisi lain, Akbar Faizal membawa diskusi ke ranah yang lebih konkret dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang keadilan dan akuntabilitas. Baginya, kebijakan yang baik bukan hanya ditentukan oleh niat, tetapi juga oleh mekanisme yang memastikan kepemimpinan berjalan transparan dan bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa tanpa dialog yang jujur dan mendalam, bangsa ini hanya akan berjalan di tempat, terjebak dalam lingkaran retorika tanpa solusi nyata.
Percakapan mereka bukan sekadar adu gagasan, tetapi sebuah ajakan bagi masyarakat untuk melihat ke dalam—merenungkan peran budaya, etika, dan kebijaksanaan dalam membentuk masa depan Indonesia. Di tengah zaman yang serba gaduh dengan politik transaksional dan kepentingan sesaat, diskusi ini menjadi pengingat bahwa negeri ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya berkuasa, tetapi juga mampu menerangi jalan di tengah kegelapan. Sebuah percakapan yang menggugah kesadaran, menantang cara berpikir, dan mengajak kita semua untuk bertindak lebih bijak demi masa depan yang lebih baik.
sumber : (229) SUJIWO TEJO: "GOVERNMENT TERLALU RAKUS, TAPI RAKYAT JUGA PERLU DIKRITIK" - YouTube

0 Komentar